Apa yang Membedakan Organisasi yang ‘Sekadar Digital’ dan yang Mature?
Banyak perusahaan saat ini bangga telah melakukan “digitalisasi” hanya karena mereka telah membeli perangkat lunak terbaru atau memindahkan data ke cloud. Namun, tingginya investasi TI ternyata tidak selalu menjamin kesuksesan bisnis. Sering kali, perusahaan terjebak dalam fenomena “sekadar digital” tanpa hasil yang sebanding.
Lantas, apa sebenarnya yang membedakan organisasi yang sekadar digital dengan organisasi yang sudah mencapai level Digital Maturity?
Digitalisasi vs Digital Maturity: Bukan Sekadar Teknologi
Perbedaan mendasar antara keduanya bukan terletak pada seberapa mahal perangkat keras yang dibeli, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut dikelola untuk menghasilkan nilai bisnis.
Karakteristik Organisasi yang “Mature”
Organisasi yang memiliki kematangan digital (mature) memiliki tiga pilar utama dalam operasional mereka:
- Alignment yang Jelas: Strategi TI dan strategi bisnis tidak berjalan sendiri-sendiri. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk TI memiliki tujuan langsung untuk mendukung target pertumbuhan organisasi.
- Role & Responsibility Terdefinisi: Tidak ada kebingungan mengenai siapa yang berhak mengambil keputusan (decide), siapa yang bertanggung jawab (accountable), dan siapa yang perlu mendapatkan informasi (informed).
Performance & Risk Measurable: Keberhasilan TI diukur dengan KPI yang jelas. Risiko digital tidak dihindari, melainkan dikelola dan dimitigasi secara terstruktur.
Ciri Organisasi yang “Sekadar Digital”
Sebaliknya, perusahaan yang hanya sekadar digital biasanya menunjukkan gejala berikut:
- Memiliki banyak sistem dan aplikasi, namun tidak saling terintegrasi (silo data).
- Keputusan investasi TI dilakukan secara impulsif atau tersebar di berbagai divisi tanpa dokumentasi yang baik.
Tidak memiliki mekanisme formal untuk menilai value (nilai manfaat) dan risiko dari setiap teknologi yang diimplementasi.
COBIT 2019: Jembatan Menuju Kematangan Digital
Untuk mencapai level mature, organisasi membutuhkan kompas atau kerangka kerja. Di sinilah COBIT 2019 memainkan peran krusial.
Sering kali dianggap sebagai “manual audit” yang membosankan, COBIT 2019 sebenarnya adalah alat bantu strategis bagi manajemen untuk membuat keputusan TI yang jelas dan terukur. Framework ini membantu organisasi untuk:
- Memetakan Peran dan Tanggung Jawab: Menggunakan matriks yang jelas sehingga setiap individu dalam organisasi tahu kontribusi mereka dalam tata kelola TI.
- Menilai Risiko vs Value: Memberikan metodologi untuk menghitung apakah sebuah investasi TI benar-benar bernilai bagi bisnis atau justru menjadi beban risiko di masa depan.
Penyelarasan Strategis: Memastikan investasi teknologi benar-benar menjawab kebutuhan operasional dan visi jangka panjang perusahaan.
Menjadi organisasi yang mature berarti Anda berhenti melihat teknologi sebagai pengeluaran (cost center) dan mulai melihatnya sebagai penggerak nilai (value driver). Perbedaan antara organisasi yang sukses bertransformasi dan yang gagal terletak pada Governance atau Tata Kelola.
Tanpa tata kelola yang baik, digitalisasi hanyalah tumpukan teknologi yang menunggu untuk menjadi masalah di masa depan.
Apa Langkah Selanjutnya? Memahami teori tentang kematangan digital barulah permulaan. Tantangan sebenarnya ada pada implementasi. Besok, kita akan membahas mengapa COBIT 2019 baru terasa manfaatnya saat dipraktikkan, bukan hanya sekadar dibaca di buku teks.
Jangan biarkan investasi TI Anda menjadi sia-sia tanpa tata kelola yang tepat. Pelajari strategi implementasi framework global yang efektif dalam Seminar Eksklusif COBIT 2019.